MENANG ATAS JERAT DOSA POPULARITAS
“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.”
(Galatia 1:10)
Bayangkan seorang aktor yang memakai berbagai topeng untuk menyenangkan penonoton. Setiap hari dia memakai topeng yang berbeda—tergantung penonton seperti apa yang dia temui. Topeng-topeng itu terus ia kenakan—setiap saat, di mana pun, dengan siapa pun—hingga dia lupa siapa dirinya sesungguhnya. Ironisnya, hal itu terjadi pada begitu banyak orang—dan mungkin termasuk kita. Dalam upaya kita untuk dicintai, dikasihi dan diterima semua orang, tak jarang kita melakukan apa yang orang suka. Kita takut mengemukakan pendapat yang berbeda. Kita mengikuti suara dan opini orang-orang di sekitar kita—bahkan sekalipun sebenarnya kita tidak setuju dengan mereka. Kita takut dinilai buruk, gagal, lemah. Kita selalu memakai topeng kesempurnaan karena kita takut kehilangan penerimaan. Kita takut menunjukkan kelemahan karena kita haus akan sanjungan. Kita mengorbankan otentisitas demi mendapatkan popularitas.
Bukankah hal ini bisa terjadi pada kita? Sebagai seorang pemimpin yang ingin selalu terlihat ‘hebat’, sebagai orang tua yang ingin selalu ‘menjaga wibawa dan menyelamatkan muka’, sebagai pelayan gereja yang ingin terlihat ‘rohani dan dewasa’, sebagai seorang muda yang takut ditinggalkan teman sebaya, sebagai seorang anak yang takut dicerca orang tua? Di tengah dunia yang haus akan penerimaan dan cinta, kita seperti aktor yang terus memakai topeng hingga lupa siapa diri kita sesungguhnya. Ironis. Tragis.
Paulus dalam ayat ini menolong kita untuk kembali melihat kepada Allah—penerimaan-Nya, cinta-Nya—yang memuaskan rasa haus kita. Allah yang mengenal kita seutuhnya, dan di saat yang sama menerima dan mengasihi kita seutuhnya. Bukankah itu yang kita dambakan? Bukankah itu yang kita cari selama ini dari orang-orang sekitar kita? Namun cinta dan penerimaan dunia selalu bersyarat—itu akan menjadi jerat baru bagi kita, jerat yang melelahkan dan menghancurkan. Arahkan hati kita kepada Allah, temukan cinta dan penerimaan sejati di dalam salib Kristus, puaskan rasa haus kita di dalam Dia, dan bebaskan diri dari pencarian akan popularitas dunia. -Edo
Bacaan Alkitab
Mazmur 61-63
