IDENTITAS YANG TIDAK DISANGKAL
Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.
(Wahyu 3:8b)
Pada waktu Petrus—yang beberapa jam sebelumnya mengikrarkan komitmen imannya dengan lantang bahwa ‘sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau’ (Mat 26:35)—berhadapan dengan seorang hamba perempuan di halaman Imam Besar, imannya runtuh! Komitmen yang diucapkan dengan gagah berani itu menguap seketika. Bukan cuma sekali, tapi tiga kali. Kegagalan iman ini menjadi ‘aib’ besar di mata banyak orang Kristen—bahkan menjadi kegagalam yang diidentikkan dengan Petrus sampai berbada-abad kemudian. Bicara tentang Petrus, pasti bicara tentang penyangkalan. Namun tanpa bermaksud mengecilkan kegagalan ini, bukan kah Petrus bukan satu-satunya yang menyangkal Yesus? Hampir semua murid lain melakukannya—mungkin tidak dengan kata-kata, tapi dengan perbuatan yang justru lari menyelamatkan diri masing-masing ketika Yesus ditangkap. Dan sangat mungkin juga, termasuk kita. Mengapa penyangkalan bisa terjadi? Seringkali penyangkalan akan nama Yesus terjadi akibat adanya tekanan dan penderitaan. Namun jika mau melihat lebih ke dalam diri—bukan hanya ‘tekanan’ yang merupakan faktor eksternal—penyangkalan terjadi ketika hati kita masih terpaut dengan berbagai hal yang dunia tawarkan. Ketika kenyamanan masih menjadi yang paling kita idamkan, ketika penerimaan dan cinta manusia masih menjadi yang paling indah dan berharga, ketika kekuasaan duniawi masih mencengkeram hati, maka penyangkalan di mulut tinggal menunggu waktu karena sebenarnya benihnya sudah ada di dalam hati.
Salah satu pujian yang diberikan kepada jemaat Filadelfia adalah bahwa di tengah berbagai kelemahan dan tekanan, mereka ‘Tidak menyangkal nama-Ku’. Itu berarti mereka tetap mengakui Yesus sebagai Tuhan di depan umum, sekalipun ada tekanan atau risiko. Ini adalah tentang integritas dan keberanian iman. Ini adalah tentang menikmati Yesus sebagai yang paling berharga dalam hidup—lebih dari pada kenyamanan, penerimaan, dan semua yang ditawarkan sebagai ganti Yesus.
Mari melihat ke dalam diri, apakah kita malu mengaku sebagai pengikut Kristus di lingkungan kerja, kampus, atau media sosial? Apakah kenyamanan dan penerimaan dunia lebih menarik hati kita daripada pengakuan dan ekspresi iman kita terhadap Yesus? Pahami bahwa justru di tengah tekanan dan kelemahan, keberanian untuk mempertahankan identitas sebagai anak Tuhan adalah kesaksian yang powerful. (dan)
Bacaan Alkitab
Ayub 40-42
