BUMI DIPIJAK LANGIT DIJUNJUNG

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.
(Yeremia 29:7)

Ada pepatah lama yang mengatakan “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, pepatah ini mengaitkan pepatah lokal dengan prinsip iman, dimana kita harus menghormati aturan dan beradaptasi di mana pun kita berada, sambil tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Kerajaan Allah, hidup bijaksana seperti langit dan bumi, serta menjaga bumi sebagai ciptaan-Nya dengan kerendahan hati dan pelayanan. Orang beriman harus aktif mencari kebaikan di tempat kita tinggal, baik secara sosial maupun rohani, sebagai wujud iman. Ini berarti kita menjadi berkat di lingkungan kita, mengusahakan kesejahteraan, dan menjadi saksi Kristus, sehingga identitas iman kita menjadi berkat bagi sesama di mana kita tinggal.

Peribahasa “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” mengandung pesan mendalam tentang adaptasi, penghormatan, dan integritas, yang selaras dengan nilai-nilai Kristiani. Tuhan sering kali menempatkan kita di lingkungan yang asing atau berbeda secara budaya. Sebagai orang percaya, kita dipanggil bukan untuk mengisolasi diri, melainkan untuk beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Seperti nasihat nabi Yeremia kepada bangsa Israel di pembuangan: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana Aku membuang kamu, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN”. Menjunjung langit di tempat kita berpijak berarti aktif berkontribusi bagi kebaikan komunitas lokal. Pepatah ini menjadi pengingat untuk hidup berdampak positif, memuliakan Kristus, dan memancarkan kasih-Nya di mana pun kita berada. Saat kita hidup di bumi, kita harus “menjunjung langit”, artinya prinsip kasih, kebenaran, dan keadilan Allah tetap menjadi pedoman utama, tidak peduli seberapa berbeda lingkungan kita. Secara praktis kita juga harus menghargai aturan dan adat setempat, namun tetap memiliki “jati diri” Kristiani yang kuat, bersikap rendah hati dan siap melayani, tidak merasa lebih tinggi dari siapapun. Menjaga integritas moral dan iman di tengah budaya yang beragam. Menjadi berkat dan membawa perubahan positif di komunitas kita, sesuai dengan panggilan Kristus. Amin. (as)

Bacaan Alkitab
Yehezkiel 38-39