MELEPAS DENGAN TANGAN TERANGKAT

Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi.
(Kisah Para Rasul 13:1-3)

Seorang ayah dan ibu yang telah membesarkan anaknya dengan penuh kasih, suatu hari harus melepas sang anak merantau ke luar kota untuk kuliah atau bekerja. Tentu ada perasaan cemas, khawatir, dan berat hati. Namun, karena kasih dan keyakinan bahwa di sanalah masa depan anak itu, mereka melepasnya dengan restu dan air mata haru. Mereka tidak menahannya, tetapi justru mendukungnya dari belakang. Keberhasilan anak di perantauan nanti juga menjadi kebanggaan dan berkat bagi seluruh keluarga.

Jemaat di Antiokhia memiliki Barnabas dan Saulus, dua guru besar yang menjadi fondasi gereja mereka. Mereka adalah aset yang paling berharga. Namun, ketika Roh Kudus berkata, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku,” gereja tidak bernegosiasi atau berkata, “Tuhan, jangan yang itu, nanti kami kehilangan pemimpin.” Sebaliknya, respons mereka adalah “berpuasa dan berdoa,” lalu “meletakkan tangan ke atas kedua orang itu dan membiarkan keduanya pergi.” Tindakan “meletakkan tangan” adalah simbol identifikasi, berkat, dan pengalihan otoritas. Mereka tidak melepas dengan kepahitan, tetapi dengan penyerahan penuh kepada Tuhan. Gereja yang selaras dengan visi Tuhan mengerti bahwa memegang erat pemimpin bukanlah tanda kesuksesan, melainkan mengutus mereka untuk menjangkau lebih banyak jiwa adalah wujud dari kerinduan Tuhan.

Gereja yang bergerak adalah gereja yang berani melepas. Prinsipnya adalah: benih harus jatuh ke tanah dan mati (dilepas) untuk menghasilkan banyak buah (Yohanes 12:24). Jemaat Antiokhia tidak menjadi gereja yang egois, hanya berfokus pada pertumbuhan internal. Mereka rela kehilangan dua pemimpin kunci demi lahirnya jemaat-jemaat baru di tempat lain. Ini adalah bukti kedewasaan rohani dan keselarasan visi dengan Tuhan yang ingin “semua orang diselamatkan” (1 Timotius 2:4). Sebagai gereja masa kini, kita mungkin tergoda untuk menjadi “gereja benteng,” di mana kita hanya ingin menyimpan semua potensi, dana, dan sumber daya manusia untuk kepentingan kita sendiri. Renungan ini mengajak kita untuk menjadi “gereja pelabuhan,” yang justru menjadi tempat pemberangkatan. Apakah kita rela jika anak muda berbakat di gereja kita dipanggil menjadi misionaris di daerah terpencil? Apakah kita mendukung mereka secara doa dan dana, atau malah menahannya? Gereja yang selaras dengan hati Tuhan tidak takut “kehilangan” anggotanya, karena mereka percaya bahwa setiap orang yang diutus adalah perluasan kerajaan Allah. Dengan tangan terangkat memberkati, kita melepas mereka untuk bergerak, karena kita tahu Gereja tidak hanya tentang mereka yang datang, tetapi juga tentang mereka yang pergi. -Dan

Bacaan Alkitab
Matius 19, Markus 10