UJIAN IMAN: KETIKA IMAN DIUJI DAN DIMURNIKAN

Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.
(1Petrus 1:6-7)

Iman yang sejati tidak pernah dibuktikan di tengah kenyamanan, tetapi di tengah pencobaan. Ketika semuanya berjalan lancar—ketika kesehatan baik, keuangan cukup, keluarga harmonis, pekerjaan lancar—mudah bagi kita berkata “aku percaya kepada Tuhan.” Tetapi ketika doa tidak dijawab, ketika kehilangan menghantam, ketika kegelapan menyelimuti, ketika Tuhan terasa jauh—di situlah ketiga elemen iman diuji. Di situlah kita mengetahui apakah iman kita benar-benar berakar atau hanya berada di permukaan. Notitia diuji ketika kita tergoda untuk meragukan firman Tuhan dan bertanya, “Benarkah Allah baik? Benarkah Ia peduli? Benarkah janji-janji-Nya dapat dipercaya?” Di tengah penderitaan, kita tergoda untuk mempertanyakan apa yang kita ketahui tentang Tuhan. Tetapi justru di situlah kita dipanggil untuk berpegang teguh pada kebenaran firman-Nya, bukan pada perasaan kita. Ascensus diuji ketika dunia menawarkan kebenaran tandingan dan kita harus memilih tetap setia pada Injil. Ketika jalan yang lebar dan mudah terbentang di depan kita, ketika kompromi menawarkan kelegaan, apakah kita tetap mengakui Kristus sebagai Tuhan? Fiducia diuji ketika kita harus melepaskan kendali dan tetap mempercayai Tuhan meskipun kita tidak mengerti jalan-Nya. Ketika Abraham diuji untuk mempersembahkan Ishak, ia tidak mengerti mengapa Tuhan meminta hal itu, tetapi ia tetap mempercayai-Nya (Kejadian 22). Ketika Ayub kehilangan segalanya, ia tidak mengerti, tetapi ia berkata, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Petrus mengingatkan bahwa pencobaan tidak menghancurkan iman—justru memurnikannya. Seperti emas yang dibersihkan dari kotoran melalui api, iman kita dimurnikan dari motivasi palsu, dari kepercayaan pada diri sendiri, dari iman yang hanya mencari berkat dan bukan Pemberi berkat. Api pencobaan membakar sekam, tetapi memurnikan gandum. Api pencobaan menghancurkan iman yang palsu, tetapi menguatkan iman yang sejati. Jika hari ini kita sedang dalam ujian, jangan menyerah. Jangan salah paham bahwa Tuhan sedang menghukum kita. Tuhan sedang membentuk iman kita menjadi lebih murni dan lebih berharga daripada emas. Dan janji-Nya tetap teguh: “Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1 Korintus 10:13). -Dan

Bacaan Alkitab
1 Raja-raja 3-4