BUKAN SEKADAR KARYAWAN, TAPI UTUSAN
Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”
(Yohanes 20:21)
Bayangkan seorang karyawan yang setiap hari datang ke kantor, duduk di meja kerjanya, dan hanya melakukan tugas-tugas rutin tanpa pernah berinteraksi dengan visi besar perusahaan. Ia hanya ada di sana untuk gaji. Ia hadir secara fisik, tetapi tidak terlibat secara misi. Berbeda dengan seorang “utusan” atau “duta” perusahaan yang dikirim ke kota lain. Ia tidak hanya datang, tetapi ia mewakili perusahaan, membawa wewenang, dan memiliki tugas khusus untuk menyelesaikan pekerjaan penting. Ia tahu persis mengapa ia ada di sana.
Yesus tidak mengatakan, “Pergilah kamu dan jadilah orang baik di mana pun kamu berada.” Ia juga tidak mengatakan, “Nikmatilah damai sejahtera ini untuk dirimu sendiri.” Setelah memberikan salam damai, Yesus langsung memberikan mandat: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Kata “mengutus” di sini bukan sekadar “menyuruh pergi”, tetapi dalam bahasa aslinya (apostello) berarti mengirim seseorang sebagai duta resmi yang membawa otoritas pengirimnya. Bapa mengutus Yesus dengan misi tertentu: mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kini, Yesus mengutus kita dengan misi yang sama. Damai sejahtera yang Ia berikan bukanlah tujuan akhir, melainkan bekal untuk perjalanan misi.
Yesus memberikan teladan sebagai Sang Utusan. Ia tidak tinggal di surga menikmati kemuliaan, tetapi rela turun ke dunia yang penuh penderitaan untuk menjalankan misi Bapa. Sebagai orang percaya, identitas kita bukanlah penonton yang hanya menikmati berkat Tuhan di dalam gedung gereja, tetapi “utusan” yang diutus ke tengah dunia—ke tempat kerja, sekolah, lingkungan tinggal—dengan misi yang sama: menjadi saksi kasih dan kebenaran.
Kita sering memisahkan kehidupan rohani (ibadah di gereja) dan kehidupan sehari-hari. Yohanes 20:21 menghancurkan sekat itu. Saat kita melangkah keluar dari pintu rumah setiap pagi, kita sedang “diutus” ke dunia. Pertanyaan untuk direnungkan: Apakah kita pergi sebagai pengunjung biasa yang pasif, atau sebagai utusan yang sadar akan misi? Mulai hari ini, anggaplah setiap interaksi, setiap pekerjaan, dan setiap tantangan sebagai bagian dari “wilayah misi” kita. Kita diutus dengan damai sejahtera-Nya untuk membawa damai itu kepada dunia yang gelisah. -Dan
Bacaan Alkitab
Matius 20-21
