THE PRAYER: BUKAN PANGGUNG SANDIWARA TETAPI RELASI YANG SEJATI
“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]
(Matius 6:5-13)
Era keterbukaan saat ini telah menjebak orang dalam “industri kesalehan.” Kita sangat peduli dengan bagaimana penampilan luar kita di hadapan sesama manusia. Ketika doa dijadikan panggung untuk memamerkan kesalehan, ia kehilangan esensinya. Kita cenderung mengatur kata-kata agar terdengar rohani di depan orang lain. Doa yang berkarakter itu tidak membutuhkan tepuk tangan penonton. Karakter sejati seseorang terlihat saat tidak ada siapa pun yang melihat. Sehingga patutlah kita perhatikan teks asli bahasa Yunani dari kata “munafik” menggunakan kata ὑποκριτής (hupokrites). Pada zaman kuno, kata ini digunakan untuk menggambarkan aktor teater yang memakai topeng besar untuk memainkan peran yang bukan diri mereka sebenarnya. Yesus menggunakan istilah ini secara sarkastik: orang yang berdoa demi dilihat orang lain sedang mengenakan “topeng rohani.” Mereka tidak sedang berbicara dengan Allah, melainkan sedang berakting di depan penonton manusia. Ketika doa berubah menjadi hupokrites, maka tujuannya adalah tepuk tangan (praise of men), bukan persekutuan dengan Sang Pencipta. Untuk itulah, Yesus langsung menusuk ke akar motivasi kita: doa bukan tentang mendapatkan pengakuan manusia. Sebagaimana Yesus mengkritik tajam para pemuka agama yang menjadikan doa sebagai panggung sandiwara, maka kita pun sedang juga diingatkan:
Doa Bukan Tentang Performa, Tetapi Transparansi: Ketika doa menjadi gaya hidup, kita tidak lagi disibukkan dengan kosmetik rohani atau diksi yang puitis demi pujian manusia. Doa adalah momen di mana kita menelanjangi hati di hadapan Allah;
Doa Sebagai Identitas, Bukan Aksesori: Orang yang memiliki karakter doa akan tetap berdoa dengan kualitas yang sama, baik saat memimpin ribuan orang di gereja maupun saat menangis sendirian di dalam kamar. Sebuah manekin mengenakan gaun yang indah, tetapi tidak memiliki kehidupan di dalamnya. Banyak orang percaya memiliki “gaun doa” yang indah dalam ibadah hari Minggu, tetapi hidup rohaninya mati di hari Senin.
Tantangan Minggu Ini: Sebelum Anda menaikkan doa (terutama di depan umum), berhentilah sejenak selama 3 detik. Tanyakan pada hati Anda: “Apakah saya benar-benar sedang berbicara dengan Tuhan, atau sedang memukau orang di sekitar saya?” (Ant)
Bacaan Alkitab
Kejadian 46-47
