KEBERSAMAAN ADALAH RANCANGAN ALLAH
“Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu. Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.”
(Ulangan 6:1-3)
Ketika Musa menyampaikan perkataan dalam Ulangan 6, bangsa Israel sedang berada di ambang Tanah Perjanjian. Mereka akan memasuki musim kehidupan yang baru, namun sebelum itu Tuhan mengingatkan mereka tentang sesuatu yang lebih penting daripada tanah, kota, atau kemakmuran, yaitu kehidupan yang takut akan Tuhan dari generasi ke generasi. Musa berkata “Supaya engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu…” (Ul. 6:2).
Perhatikan bahwa perintah ini tidak berhenti pada pribadi seseorang. Tuhan memandang keluarga sebagai sarana utama pewarisan iman. Allah Abraham menjadi Allah Ishak, lalu menjadi Allah Yakub. Dengan kata lain, karya Allah tidak hanya bersifat individual tetapi juga generasional. Dalam pemahaman Alkitab, keluarga bukan sekadar institusi sosial yang dibentuk manusia. Keluarga adalah rancangan Allah sendiri. Sejak awal penciptaan, Tuhan membentuk keluarga sebagai tempat manusia mengalami kasih, pengajaran, perlindungan, dan pertumbuhan iman. Karena itu, ketika keluarga menjadi kuat, masyarakat pun akan menjadi kuat. Sebaliknya, ketika keluarga rusak, dampaknya akan menjalar ke berbagai aspek kehidupan.
Teolog reformator John Calvin pernah menyebut keluarga sebagai “seminarium ecclesiae” atau “benih bagi gereja”. Maksudnya, keluarga adalah tempat pertama di mana iman dipelihara dan diteruskan. Gereja memang mengajar, tetapi keluarga adalah sekolah pertama yang Tuhan berikan bagi setiap manusia. Karena itu, kebersamaan dalam keluarga bukan sekadar soal hubungan yang harmonis. Kebersamaan adalah bagian dari panggilan Allah. Melalui kebersamaan, orang tua mengenalkan Tuhan kepada anak-anaknya. Melalui kebersamaan, nilai-nilai kerajaan Allah diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sayangnya, dunia modern sering mengajarkan individualisme. Kesuksesan pribadi, kenyamanan pribadi, dan pencapaian pribadi sering menjadi fokus utama. Tanpa disadari, keluarga hanya menjadi tempat singgah sebelum kembali mengejar agenda masing-masing. Akibatnya, hubungan yang seharusnya dipelihara menjadi semakin renggang.
Dietrich Bonhoeffer dalam buku Life Together pernah berkata “Kehadiran fisik orang Kristen lain adalah sumber sukacita dan kekuatan yang tak ternilai.”
Jika kehadiran sesama orang percaya saja begitu berharga, terlebih lagi kehadiran anggota keluarga yang Tuhan percayakan kepada kita. Hari ini, Firman Tuhan mengingatkan bahwa kebersamaan bukanlah kebetulan. Keluarga adalah rancangan Allah, dan kebersamaan adalah salah satu cara Tuhan membentuk, memelihara, dan memberkati keluarga-Nya.
Doa: Tuhan, tolong kami untuk tidak mengabaikan kebersamaan yang Engkau kehendaki. Bentuklah keluarga kami menjadi tempat di mana iman, kasih, dan pengenalan akan Engkau terus diwariskan dari generasi ke generasi. Amin. -Van
Bacaan Alkitab
Bilangan 5-6
