KEBERSAMAAN YANG MENJADI KESAKSIAN

Demikian pula isteri-isteri hendaklah orang terhormat, jangan pemfitnah, hendaklah dapat menahan diri dan dapat dipercayai dalam segala hal. Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik.
(Ulangan 6:8-9)

“Haruslah juga ia mengatur anak-anaknya dan keluarganya dengan baik.”
(1 Timotius 3:12)

Selama enam hari terakhir kita telah merenungkan bahwa kebersamaan dalam keluarga adalah rancangan Allah yang harus dibangun dengan sengaja. Kebersamaan dimulai dari hati yang mengasihi Tuhan, diwujudkan melalui kesediaan untuk mendengar, memahami, menolong, dan berkorban demi satu sama lain. Namun pertanyaannya, untuk apa semua itu? Apakah kebersamaan hanya bertujuan agar keluarga kita menjadi lebih harmonis dan bahagia? Tentu saja tidak.

Alkitab menunjukkan bahwa keluarga yang hidup menurut kehendak Tuhan memiliki tujuana yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Keluarga dipanggil untuk menjadi kesaksian tentang Allah yang hidup. Dalam Ulangan 6:8-9, Tuhan memerintahkan umat Israel untuk mengikat firman-Nya pada tangan mereka, mengenakannya di dahi mereka, menuliskannya pada tiang pintu rumah dan pintu gerbang mereka. Perintah ini bukan sekadar berbicara tentang simbol-simbol keagamaan. Inti dari perintah tersebut adalah agar Firman Tuhan begitu nyata dalam kehidupan umat-Nya sehingga dapat terlihat dalam seluruh aspek kehidupan mereka.

Rumah mereka harus mencerminkan siapa Allah yang mereka sembah. Dengan kata lain, Tuhan tidak menghendaki iman yang hanya terlihat di tempat ibadah, tetapi juga iman yang terlihat di dalam rumah tangga. Kehidupan keluarga menjadi salah satu sarana utama untuk menyatakan kemuliaan Tuhan kepada dunia.

Inilah sebabnya mengapa dalam Perjanjian Baru, Paulus memberikan perhatian besar kepada kehidupan keluarga ketika membahas kepemimpinan rohani. Dalam 1 Timotius 3:12, kemampuan seseorang mengelola keluarganya dengan baik menjadi salah satu ukuran integritas rohaninya. Mengapa? Karena keluarga merupakan tempat pertama di mana iman seseorang diuji dan dibuktikan.

Seseorang mungkin dihormati di luar rumah, tetapi bagaimana ia memperlakukan keluarganya akan menunjukkan kualitas rohaninya yang sesungguhnya. Dunia saat ini sedang mengalami krisis relasi. Banyak orang hidup dalam kesepian. Banyak keluarga kehilangan kehangatan. Banyak rumah tangga dipenuhi konflik, kepahitan, dan keterasingan. Dalam situasi seperti ini, keluarga Kristen memiliki kesempatan besar untuk menjadi terang.

Bukan karena keluarga Kristen sempurna. Bukan karena keluarga Kristen tidak pernah mengalami masalah. Tetapi karena di tengah segala keterbatasan, keluarga Kristen memiliki Kristus sebagai pusat kehidupannya. Keluarga Mesianik bukanlah keluarga tanpa konflik, melainkan keluarga yang belajar menyelesaikan konflik dengan kasih karunia Tuhan. Bukan keluarga yang tidak pernah gagal, melainkan keluarga yang terus bertumbuh dalam pertobatan dan pengampunan. Bukan keluarga yang selalu kuat, melainkan keluarga yang bergantung kepada kekuatan Roh Kudus.

Seorang penulis Kristen pernah berkata bahwa salah satu apologetika (pembelaan iman) yang paling kuat bukanlah argumentasi yang hebat, melainkan kehidupan yang diubahkan oleh Injil. Hal yang sama berlaku bagi keluarga. Kesaksian yang paling kuat sering kali bukan berasal dari kata-kata yang kita ucapkan, melainkan dari kehidupan keluarga yang orang lain lihat setiap hari.

Ketika suami dan istri saling menghormati, ketika orang tua membimbing anak-anak dalam kasih Tuhan, ketika anak-anak belajar menghormati orang tua, ketika anggota keluarga saling mendengar, memahami, menolong, dan mengampuni, maka dunia melihat gambaran kecil tentang kasih Kristus. Itulah tujuan akhir dari kebersamaan yang dibangun dalam keluarga.

Bukan hanya untuk menciptakan kenyamanan di dalam rumah, tetapi untuk memuliakan Tuhan melalui kehidupan keluarga yang menjadi kesaksian bagi banyak orang. Di akhir rangkaian renungan ini, marilah kita mengingat bahwa membangun kebersamaan adalah sebuah perjalanan yang tidak pernah selesai. Setiap hari Tuhan memberi kesempatan baru bagi kita untuk mengasihi keluarga yang telah Ia percayakan kepada kita. Dan ketika kita melakukannya, keluarga kita dapat menjadi alat yang Tuhan pakai untuk menyatakan kasih-Nya kepada dunia.

Refleksi Jika orang lain memperhatikan kehidupan keluarga kami, apa yang mereka lihat tentang Kristus melalui keluarga kami?

Doa Bapa di surga, terima kasih untuk keluarga yang Engkau percayakan kepada kami. Terima kasih untuk setiap pelajaran yang telah kami terima tentang membangun kebersamaan menurut kehendak-Mu. Tolong kami agar tidak hanya menjadi keluarga yang menikmati berkat-Mu, tetapi juga menjadi keluarga yang memancarkan kasih dan kemuliaan-Mu. Biarlah rumah kami menjadi tempat di mana Kristus dihormati, Firman-Mu ditaati, dan kasih-Mu dinyatakan. Pakailah keluarga kami menjadi kesaksian yang hidup bagi dunia di sekitar kami. Amin. -Van

Bacaan Alkitab
Bilangan 18-20