MENGENAL YESUS MELALUI KEBENARAN YANG DINYATAKAN ALLAH

“Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.”
(Matius 16:15–17)

Kita bisa mengetahui banyak hal tentang seseorang tanpa benar-benar mengenalnya. Kita bisa tahu namanya, pekerjaannya, latar belakangnya, bahkan mendengar banyak cerita tentang dirinya. Namun banyaknya informasi tidak menjamin bahwa kesimpulan kita tentang orang tersebut benar.Hal yang sama dapat terjadi dalam iman. Kita dapat sering mendengar nama Yesus, membaca tentang Yesus, menyanyikan lagu tentang Yesus, bahkan aktif dalam pelayanan gereja, tetapi tetap mempunyai gambaran yang tidak utuh tentang siapa Dia. Matius 16:13–17 membawa kita kepada pertanyaan paling mendasar dalam iman Kristen: siapakah Yesus? Yesus sedang berada di daerah Kaisarea Filipi ketika Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawaban mereka beragam: Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau salah seorang nabi. Perhatikan bahwa tidak satu pun jawaban itu merendahkan Yesus. Orang banyak melihat Yesus sebagai pribadi yang luar biasa dan memiliki hubungan dengan karya Allah. Tetapi tetap saja, mereka belum mengenal identitas-Nya dengan benar.Yesus kemudian mengubah pertanyaan itu: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Jawaban Petrus bukan sekadar pendapat pribadi yang lebih baik daripada pendapat orang banyak. Ia sedang menyatakan identitas Yesus. “Mesias” menunjuk kepada Yang Diurapi Allah yang dijanjikan dalam pengharapan Israel, sedangkan “Anak Allah yang hidup” menunjuk kepada identitas Yesus yang unik dalam relasi-Nya dengan Bapa. Yang menarik adalah respons Yesus terhadap Petrus. Ia mengatakan bahwa pengenalan tersebut bukan berasal dari manusia, melainkan dinyatakan oleh Bapa. Artinya, manusia tidak dapat menentukan sendiri siapa Yesus berdasarkan preferensi atau spekulasi. Yesus harus dikenal berdasarkan penyataan Allah. Inilah fondasi yang penting. Kita tidak mempunyai kebebasan untuk menciptakan “Yesus versi kita” lalu menyebutnya iman Kristen. Kita tidak bisa mengambil hanya bagian-bagian tentang Yesus yang kita sukai dan mengabaikan bagian yang tidak nyaman. Kalau kita hanya mengenal Yesus sebagai pemberi berkat, kita sedang mengecilkan Dia. Kalau kita hanya mengenal Dia sebagai penghibur, tetapi tidak mengenal Dia sebagai Tuhan yang memanggil kepada pertobatan, kita belum mengenal-Nya secara utuh. Kalau kita hanya menginginkan Juruselamat tetapi menolak Tuhan yang berhak memerintah hidup kita, kita sedang memisahkan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dalam kesaksian Firman-Nya.Karena itu, pengenalan yang benar tentang Kristus harus selalu kembali kepada apa yang Allah nyatakan dalam firman. Ketika membaca Injil, jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa aku dapatkan dari bagian ini?” Tanyakan juga, “Apa yang bagian ini nyatakan tentang Yesus?”Mari renungkan: Ketika memikirkan Yesus, apakah gambaran yang ada dalam pikiranmu, apakah ini gambaran ini dibentuk oleh firman Tuhan atau oleh pengalaman, keinginan, dan pendapat orang lain?

Doa: Tuhan, bukalah hati dan pikiranku untuk mengenal Yesus sebagaimana Engkau menyatakan Dia. Jangan biarkan aku membentuk gambaran tentang Kristus sesuai keinginanku sendiri. Ajarku mengenal Dia sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup, dan tunduk kepada-Nya dengan benar. Amin. (Mpn)

Bacaan Alkitab
Mazmur 65-67, 69-70