MEMBANGUN IMAN DI ATAS KEBENARAN FIRMAN TUHAN

“Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.”
(Yohanes 1:49–50)

Kita semua memiliki asumsi. Sebelum mengenal seseorang, kita sering sudah mempunyai gambaran tentang dirinya. Masalahnya, asumsi dapat membuat kita menilai sesuatu sebelum kita benar-benar melihat kenyataannya. Nathanael mengalami hal tersebut ketika Filipus berkata kepadanya bahwa mereka telah menemukan Dia yang ditulis Musa dalam Taurat dan para nabi, yaitu Yesus dari Nazaret. Respons Nathanael menunjukkan adanya prasangka: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Ia sudah mempunyai gambaran tertentu tentang Nazaret. Karena itu, ketika mendengar bahwa Mesias berasal dari sana, informasi tersebut berbenturan dengan kerangka berpikirnya. Namun Filipus tidak mengajak Nathanael membangun iman berdasarkan argumen kosong. Ia berkata, “Mari dan lihatlah.” Nathanael kemudian datang kepada Yesus. Di sana ia menemukan bahwa Yesus mengenalnya bahkan sebelum pertemuan mereka. Percakapan tersebut membawa Nathanael dari keraguan menuju pengakuan: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Perubahan Nathanael menunjukkan sesuatu yang penting: kebenaran tentang Kristus harus membentuk pikiran kita, bukan pikiran kita yang menentukan kebenaran tentang Kristus. Bukankah ini sangat relevan dalam kehidupan iman saat ini? Kita dapat membawa banyak asumsi kepada Tuhan. Misalnya, kita menganggap kalau Tuhan mengasihi kita maka hidup kita seharusnya selalu berjalan baik. Kita menganggap kalau kita sungguh beriman maka doa tertentu seharusnya dijawab sesuai keinginan kita. Kita menganggap Tuhan hanya hadir ketika kita merasa damai. Tetapi firman Tuhan tidak selalu mengonfirmasi asumsi kita. Kadang-kadang justru firman Tuhan membongkarnya. Kita menemukan bahwa Allah bukan hanya kasih, tetapi juga kudus. Ia bukan hanya menghibur, tetapi juga menegur. Ia bukan hanya memberi, tetapi juga memerintah. Ia bukan hanya menyelamatkan dari hukuman dosa, tetapi juga memanggil umat-Nya meninggalkan dosa. Karena itu, membaca Alkitab bukan sekadar mencari ayat yang cocok dengan keadaan kita. Kita membaca Alkitab untuk membiarkan Allah berbicara dan membentuk cara kita berpikir. Inilah perbedaan antara iman yang dibangun di atas firman dan iman yang dibangun di atas preferensi pribadi. Iman yang dibangun di atas preferensi berkata, “Aku percaya Tuhan seperti ini karena aku merasa Tuhan seharusnya seperti ini.” Iman yang dibangun di atas firman berkata, “Aku percaya Tuhan seperti ini karena Dia telah menyatakan diri-Nya demikian.” Keduanya bisa terdengar rohani, tetapi dasarnya berbeda. Karena itu, ketika membaca Alkitab, jangan hanya bertanya, “Ayat ini berbicara apa tentang masalahku?” Tanyakan terlebih dahulu, “Apa yang Allah sedang nyatakan tentang diri-Nya, tentang Kristus, tentang manusia, dan tentang kehendak-Nya?” Ketika firman membentuk jawaban kita, iman kita memiliki dasar yang lebih kuat daripada sekadar perasaan atau pengalaman. Mari renungkan: Apa satu asumsi tentang Tuhan yang perlu kamu izinkan untuk diuji dan dikoreksi oleh firman-Nya?

Doa: Tuhan, aku sering datang kepada-Mu dengan pikiran dan asumsi yang sudah terbentuk. Ajarku tunduk kepada kebenaran firman-Mu. Biarlah bukan keinginanku yang membentuk gambaran tentang Engkau, tetapi firman-Mu yang membentuk imanku. Amin. (Mpn)