MESSIANIC FAMILY
²Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu istri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, . . . ⁴seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. ⁵Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?
Demikian pula isteri-isteri hendaklah orang terhormat, jangan pemfitnah, hendaklah dapat menahan diri dan dapat dipercayai dalam segala hal. ¹²Diaken haruslah suami dari satu istri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik. ¹³Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa.
(1 Timotius 3:2, 4-5, 11-13)
Dalam Persekutuan Doa Rabu di 10 Juni lalu ayat² ini telah disinggung tentang krusialitas posisi keluarga – yang dalam konteks bacaan kita menjadi kualifikasi, identifikasi sekaligus verifikasi tatkala seseorang diberikan kepercayaan untuk menjabat sebagai seorang penilik jemaat & diaken. Bukan hanya bagaimana orang lain memandang mereka di tengah² keluarga, bahkan bagaimana kehidupan keluarganya pun menjadi sebuah pertimbangan. Mungkin persyaratan di atas dianggap oleh sebagian orang terlalu berlebihan, dengan dalih karena tidak ada keluarga yang sempurna. Benar! Tidak ada keluarga yang sempurna, namun setidaknya ada sebuah upaya yang telah dikerjakan agar tercipta keluarga yang seperti ini, dan seharusnya itu adalah hal yang sangat memungkinkan bila mereka telah berada di dalam Kristus, dan melakukan kehidupan keluarga dengan dan dalam tatanan secara Mesianik.
Sebagaimana telah disinggung di Mei tatkala memaknai Yerusalem (KPR 1:8) dalam skala prioritas dan aplikasinya dalam KELUARGA sebagai “Yerusalem” kita; maka di bulan ini kita akan menjabarkan dalam pokok pikiran Keluarga (Kristen) yang seharusnya berada dalam Tatanan Mesianik, yaitu keluarga yang berpusatkan Kristus dan menghidupi nilai² Kristen dalam keluarga. Keluarga yang demikian bukan saja memberikan manfaat dan “keuntungan” bagi kita dan setiap anggota keluarganya, di mana sukacita, damai sejahtera, hubungan yang saling mendukung, menguatkan dan memberkati akan menjadi budaya & karakter keluarga yang sehat; dampak penting yang terjadi – keluarga F.O.M.O. (Family On Messianic Order) akan menjadi kesaksian yang hidup bagi orang/ keluarga lain.
Terlepas apakah kita sedang atau akan dipercayakan sebagai seorang pelayanan TUHAN – Penilik Jemaat atau Diaken – seharusnya menjalani kehidupan F.O.M.O. bukanlah menjadi pilihan tetapi keharusan.
TUHAN memberkatimu dan keluargamu.
Bacaan Alkitab
Keluaran 25-27
