SENGAJA ATAU NGGAK SENGAJA?

¹⁴Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. ¹⁵Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: “Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.” Ia mendesak sampai kami menerimanya.
(Kisah Para Rasul 16:14-15) 

³¹Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” ³²Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. ³³Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis. ³⁴Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.
(Kisah Para Rasul 16:31-34)

Hari ini perenungan kita akan berangkat dari 2 (dua) peristiwa yang memiliki beberapa kesamaan. Peristiwa yang terjadi dan bermula pada seorang perempuan kain ungu yang bernama Lidia, dan yang lain terjadi kepada seorang Kepala Penjara yang tidak kita ketahui namanya. Kesamaan tersebut antara lain:

  • Kedua peristiwa tersebut sama² terjadi di kota Filipi
  • Kedua tokoh kita ini sama² berjumpa dengan Paulus dkk dalam perjalanan misi Paulus.
  • Mereka berdua sama² mendengar pengajaran/ kabar baik/ berita anugerah keselamatan di dalam Yesus Kristus
  • Mereka berdua sama² memberi diri dibaptis sebagai tanda materai iman percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.
  • Dan ini yang menjadi penekanannya, mereka berdua sama² tidak dibaptis sendiri – melainkan bersama keluarga/ seisi rumahnya.

 

Berangkat dari poin terakhir ini, mari kita mencoba mengembangkan pemikiran kita, dan menempatkan diri sebagai seorang pretender yang mencoba men-duga² dengan penuh tanggung jawab, dengan mengajukan pemikiran dan pertanyaan sebagai berikut:

Bagaimana bisa mereka dibaptiskan bersama seisi rumah/ keluarganya? Apakah hal ini berlalu begitu saja – tanpa kesengajaan, pas kebetulan saja keluarga juga ingin dibaptiskan karena merupakan sebuah “prosesi asing yang cukup menarik untuk melibatkan diri di dalamnya”? Atau, Lidia & Kepala Penjara melihat keselamatan di dalam Yesus Kristus adalah hal yang sangat luar biasa, maka mereka juga ingin dan rindu keluarganya pun mendengar kabar itu dan mendapatkan anugerah Allah dengan mempercayainya; yang sangat besar kemungkinan menghadirkan Paulus dkk. ke dalam keluarga masing². Berarti ada niatan yang dengan sengaja dilakukan. Begitukah? Kalau mereka melakukan dengan sengaja, lalu kira² apa pemahaman mereka tentang keluarga? Pentingkah? Pentingkah keluarga yang diselamatkan itu? Pentingkah keluarga percaya Yesus Kristus?

DOA: Tuhan mungkin pemikiran kami terlalu demokratis bahwa urusan percaya kepada Tuhan adalah urusan personal karena semua orang memiliki hak untuk memilih – dan pikiran itu membuat kami tidak terlalu peduli apakah anggota keluarga kami percaya atau tidak percaya kepada-Mu. Sementara di sisi lain kami punya iman yang teguh bahwa keselamatan hanya ada di dalam Engkau, itu seharusnya menyadarkan kami untuk melihat dan memperjuangkan keluarga agar mengenal & percaya kepada-Mu. Ampuni dan tolonglah kami ya TUHAN agar bisa membawa keluarga kami kepada-Mu. Dalam nama-Mu kami memohon. Amin.

Bacaan Alkitab
Keluaran 28-29