FOMO & IDENTITAS DIRI
Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
(Kolose 2:6-7)
FOMO (Fear of Missing Out) adalah perasaan cemas atau takut tertinggal ketika melihat orang lain melakukan sesuatu yang menarik atau memiliki pengalaman yang lebih baik. Biasanya FOMO muncul ketika kita melihat teman-teman atau orang lain di media sosial yang tampaknya lebih bahagia, lebih sukses, atau lebih aktif. Hal ini dapat membuat seseorang merasa bahwa hidupnya tidak lengkap, atau bahwa mereka melewatkan sesuatu yang penting. Rasa takut ketinggalan ini bisa mempengaruhi suasana hati, bahkan mengganggu konsentrasi untuk menjalani hidup. Dalam taraf tertentu, sesungguhnya FOMO adalah perasaan yang wajar. Dalam teori psikososialnya, Erik Erikson menyebutkan tentang tahap Identity vs Role Confusion, yaitu tahapan ketika seseorang berusaha mengembangkan identitas yang koheren dan bergulat dengan pertanyaan fundamental ‘Siapa aku ini?’ Ini adalah periode eksperimen di mana manusia mencoba berbagai peran, ide dan gaya—yang seringkali dipengaruhi oleh pengamatan mereka terhadap orang-orang di sekitar mereka—untuk menemukan ‘diri’ mereka sesungguhnya. Sekalipun ini adalah tahapan yang wajar, akan menjadi berbahaya jika kita terjebak dalam kebingungan peran (role confusion) itu, yang akhirnya menjadikan kita tidak yakin/ bingung akan siapa diri kita sesungguhnya. Kita selalu merasa ‘tidak cukup’—tidak cukup kaya, tidak cukup cantik, tidak cukup sukses, dan seterusnya.Kolose 2:6-7 menjadi senjata rohani yang sempurna untuk melawan godaan FOMO. Paulus mengingatkan bahwa ‘kamu telah menerima Kristus’. Ketika FOMO berkata, “Kamu kurang, lihatlah orang lain!”, Injil mengatakan “Di dalam Kristus identitasmu sudah lengkap!”. Maka ‘hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia’, yang berarti secara sadar terus mengarahkan pikiran kepada Kristus—bukan kepada apa kata dunia. Identitas yang kuat di dalam Kristus itulah yang memampukan kita ‘berakar, dibangun, dan bertambah teguh’—ada stabilitas alih-alih selalu dibimbangkan oleh trend yang terus berubah. Hingga akhirnya, ‘hatimu melimpah dengan syukur’. Berlawanan dengan FOMO yang lahir dari rasa tidak puas dan selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain, rasa syukur lahir ketika kita berfokus kepada apa yang sudah kita miliki di dalam Kristus. Jadi, kita mau membangun keluarga kita seperti apa? Keluarga yang diombang-ambingkan oleh trend yang selalu berteriak, “Kamu kurang!”, atau keluarga yang melihat ke dalam Kristus yang berbisik, “Kamu sudah lengkap! Sekarang berakarlah, dan bersyukurlah!’ -Dan
Bacaan Alkitab
Keluaran 36-38
