MENGIKUTI KRISTUS DENGAN HATI YANG RELA MEMIKUL SALIB

“Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.”
(Markus 8:34–35)

Setelah Petrus salah memahami jalan Mesias, Yesus melanjutkan dengan menjelaskan bahwa jalan seorang murid juga tidak dapat dipisahkan dari salib. Menariknya, perkataan ini tidak hanya ditujukan kepada Petrus. Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya. Artinya, tuntutan menjadi murid bukan sesuatu yang hanya berlaku bagi orang-orang yang dianggap sangat rohani. Ini adalah panggilan bagi setiap orang yang mau mengikut Kristus. Yesus menyebut tiga hal: menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Dia. Ketiganya tidak boleh dipisahkan. Menyangkal diri bukan berarti membenci diri, merendahkan diri secara tidak sehat, atau menganggap bahwa keinginan pribadi selalu salah. Menyangkal diri berarti menolak menjadikan diri sendiri sebagai pusat dan penentu terakhir kehidupan. Dalam hidup, seringkali manusia ingin menjadi tuan atas dirinya sendiri: aku menentukan apa yang benar, aku menentukan apa yang baik bagiku, aku menentukan ke mana hidupku berjalan. Tetapi ketika seseorang datang kepada Kristus, pusat itu berubah. Lalu Yesus berkata, “memikul salibnya.” Kita perlu berhati-hati agar tidak menjadikan setiap masalah hidup sebagai “salib”. Tidak setiap kesulitan otomatis merupakan salib yang dimaksud Yesus. Dalam konteks ini, salib berkaitan dengan kesediaan seorang murid untuk mengikuti Kristus sekalipun ketaatan itu membawa penderitaan, penolakan, kehilangan, atau pengorbanan. Salib menjadi jalan Kristus terlebih dahulu sebelum menjadi panggilan bagi murid. Yesus sedang menuju Yerusalem untuk menderita dan mati, dan setelah itu Ia memanggil murid-murid-Nya untuk mengikuti Dia. Jadi, memikul salib bukan berarti kita mengulang karya penebusan Kristus. Karya keselamatan Kristus adalah unik dan tidak dapat digantikan. Kita tidak menderita untuk membayar dosa kita sendiri. Kristus telah menanggung hukuman dosa di kayu salib. Lalu apa artinya bagi kita? Artinya, kita bersedia kehilangan sesuatu demi tetap setia kepada Kristus. Terakhir adalah Mengikut Kristus. Mengikut Kristus berarti menerima Dia bukan hanya sebagai Juruselamat yang menyelamatkan kita dari dosa, tetapi juga sebagai Tuhan yang menentukan arah hidup kita. Seorang murid tidak menentukan sendiri jalannya lalu meminta Yesus memberkati jalan tersebut. Ia datang kepada Kristus dan berkata, “Tuhan, tunjukkan jalan-Mu, dan aku akan mengikutinya.” Karena itu, mengikut Kristus bukan sekadar memiliki perasaan dekat dengan Yesus, rajin datang beribadah, atau mengatakan bahwa kita adalah orang percaya. Mengikut Kristus berarti hidup kita terus diarahkan oleh perkataan dan teladan-Nya. Kalau Kristus berkata mengampuni, kita belajar mengampuni. Kalau Kristus memanggil kita kepada kekudusan, kita meninggalkan dosa yang selama ini kita pelihara. Kalau Kristus mengajarkan kejujuran, kita tidak menggunakan kebohongan hanya karena itu lebih menguntungkan. Kalau mengikuti Kristus membuat kita kehilangan penerimaan manusia, kita tetap memilih setia kepada-Nya. Bukan karena penderitaan itu sendiri bernilai, tetapi karena Kristus lebih berharga daripada kenyamanan yang harus kita lepaskan. Mari renungkan: Dalam bagian hidup mana aku masih ingin menjadi penentu terakhir, padahal Kristus memanggilku untuk menyangkal diri dan mengikut Dia?

Doa: Tuhan Yesus, Engkau bukan hanya Juruselamatku, tetapi juga Tuhanku. Ampuni aku ketika aku ingin menerima keselamatan-Mu tetapi tetap mempertahankan hak untuk mengatur hidupku sendiri. Ajarlah aku menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut-Mu. Biarlah anugerah-Mu tidak hanya menghiburku, tetapi juga mengubah arah hidupku, sehingga kehendak-Mu menjadi lebih utama daripada kenyamananku. Amin. (Mpn)

Bacaan Alkitab
2 Samuel 13-15