MENJADIKAN PENGENALAN AKAN KRISTUS SEBAGAI HARTA YANG TERUTAMA
“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,”
(Filipi 3:7–8)
Apa yang paling berharga bagi kita biasanya terlihat dari apa yang rela kita pertahankan, kejar, dan korbankan. Kita bisa mengatakan bahwa Tuhan adalah yang terutama, tetapi kehidupan sehari-hari sering memperlihatkan apa yang sebenarnya kita anggap paling bernilai. Paulus pernah memiliki banyak alasan untuk berbangga. Ia memiliki identitas Yahudi yang kuat, berasal dari keturunan Israel, suku Benyamin, seorang Ibrani, dan seorang Farisi. Dalam hal ketaatan terhadap hukum Taurat, ia bahkan menyebut dirinya tidak bercacat menurut ukuran lahiriah pada zamannya. Secara manusiawi, Paulus memiliki banyak hal yang dapat dijadikan dasar kepercayaan diri. Tetapi setelah berjumpa dengan Kristus, penilaiannya berubah. Ia berkata, “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.” Bahkan ia melanjutkan bahwa segala sesuatu dianggapnya rugi karena pengenalan akan Kristus jauh lebih berharga. Perhatikan: Paulus tidak sedang mengatakan bahwa identitas, prestasi, atau kehidupan religius itu sendiri selalu merupakan dosa. Persoalannya adalah ketika semua itu menjadi dasar pembenaran dan kebanggaan di hadapan Allah. Apa yang dahulu ia anggap sebagai modal rohani ternyata tidak dapat membuatnya benar di hadapan Allah. Karena itu, Paulus tidak lagi menaruh kepercayaannya pada “kebenaran dirinya sendiri”, tetapi pada kebenaran yang berasal dari Allah melalui iman kepada Kristus. Di sinilah pengenalan akan Kristus menjadi begitu berharga. Kristus bukan tambahan bagi kehidupan Paulus; Kristus mengubah seluruh cara Paulus menilai kehidupan. Paulus bahkan berkata bahwa ia ingin “mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya.” Pengenalan di sini bukan sekadar mengetahui informasi tentang Yesus. Paulus ingin hidup dalam hubungan iman yang nyata dengan Kristus, mengenal kuasa kebangkitan-Nya sekaligus mengambil bagian dalam jalan penderitaan yang harus ia tempuh sebagai pengikut Kristus. Paulus tidak memilih hanya bagian Kristus yang menyenangkan. Ia tidak berkata, “Aku mau kuasa kebangkitan, tetapi tidak mau penderitaan.” Ia menginginkan Kristus secara utuh. Inilah puncak dari rangkaian minggu ini. Pengenalan yang benar akan Kristus pada akhirnya mengubah apa yang kita anggap paling berharga. Kalau kita hanya menginginkan berkat Kristus tetapi tidak menginginkan Kristus sendiri, kita belum memahami nilai Kristus. Tetapi ketika Kristus sungguh menjadi harta kita, kita rela kehilangan sesuatu demi tidak kehilangan Dia. Itulah sebabnya pengenalan akan Kristus akan terlihat dalam kehidupan. Kita mau dibentuk oleh firman karena kita ingin mengenal Kristus dengan benar. Kita rela dikoreksi karena Kristus lebih berharga daripada ego kita. Kita belajar taat karena kehendak-Nya lebih penting daripada kenyamanan kita. Dan ketika mengikuti Kristus membawa kita kepada penderitaan atau kehilangan, kita tetap mengikut Dia karena kehilangan sesuatu demi Kristus tidak sebanding dengan kehilangan Kristus demi sesuatu. Maka pertanyaan terakhir bukan hanya, “Seberapa banyak yang aku tahu tentang Yesus?” Pertanyaannya adalah, “Seberapa berharga Kristus bagi hidupku?” Sebab pengenalan yang benar akan Kristus tidak berhenti pada kepala. Ia mengubah hati, mengubah nilai yang kita kejar, dan akhirnya mengubah cara kita hidup. Mari renungkan: Jika seseorang melihat cara kita menggunakan waktu, tenaga, uang, perhatian, dan mengambil keputusan, apakah ia akan melihat bahwa Kristus sungguh menjadi harta yang terutama dalam hidup kita?
Doa: Tuhan Yesus, ampuni aku ketika aku lebih menghargai pemberian-Mu daripada Engkau, lebih mengejar keberhasilan daripada mengenal-Mu, dan lebih mempertahankan kenyamanan daripada menaati-Mu. Ajarlah aku mengenal-Mu dengan benar dan memandang Engkau sebagai harta yang terutama. Biarlah segala sesuatu dalam hidupku dinilai dalam terang Kristus, sehingga aku rela kehilangan apa pun yang harus kulepaskan, tetapi tidak kehilangan Kristus. Amin. (Mpn)
