KETAATAN SEBAGAI GAYA HIDUP KERAJAAN ALLAH

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
(Roma 12:1)

Seorang pria bernama George Müller dikenal bukan hanya karena ia memiliki strategi besar atau dukungan manusia yang kuat, tetapi juga karena hidupnya ditandai oleh ketaatan yang konsisten kepada Tuhan. Ia memimpin panti asuhan yang merawat ribuan anak, namun ia tidak menjadikan kebutuhan besar itu sebagai alasan untuk bergantung pada manusia. Ia memilih untuk membawa semuanya dalam doa dan berjalan dalam kebergantungan kepada Tuhan hari demi hari. Bagi Müller, iman bukan sesuatu yang hanya dilakukan di saat tertentu, tetapi sebuah cara hidup yang terus berlangsung dalam keseharian. Dari kehidupannya kita melihat satu gambaran dimana ada orang-orang yang tidak hanya percaya kepada Tuhan secara konsep, tetapi hidup di bawah pemerintahan-Nya dalam seluruh aspek hidup.

Dalam Roma 12:1, Paulus tidak sedang berbicara tentang satu tindakan rohani yang sesaat, tetapi tentang seluruh hidup orang percaya. “Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup” menunjukkan bahwa ketaatan kepada Tuhan mencakup seluruh keberadaan hidup: pikiran, tindakan, keputusan, dan keseharian. Paulus memakai bahasa yang sangat total, tetapi kehidupan yang terus-menerus dipersembahkan. Artinya, ibadah sejati tidak dibatasi oleh ruang ibadah, tetapi terlihat dari seluruh hidup yang tunduk kepada kehendak Tuhan. Di sinilah inti Kerajaan Allah. Hidup yang sepenuhnya berada di bawah pemerintahan Kristus, bukan hanya sebagian. Prinsip ini bukan hanya berbicara secara pribadi, tetapi juga berbicara tentang gereja sebagai tubuh Kristus. Gereja dipanggil untuk hidup dalam ketaatan kepada Sang Kepala Gereja yaitu Kristus, bukan hanya dalam hal-hal rohani yang terlihat, tetapi juga dalam arah, cara, dan kesetiaan kepada Firman-Nya. Dalam perjalanan gereja di zaman sekarang, ketika ada tuntutan untuk menjadi relevan, kontekstual, dan menjawab kebutuhan zaman, selalu ada bahaya halus yang muncul: ketaatan bisa tergeser menjadi kompromi. Bentuk bisa berubah, metode bisa disesuaikan, tetapi inti tidak boleh hilang. Sebab gereja yang kehilangan ketaatan mungkin masih terlihat aktif, tetapi perlahan kehilangan esensi dan kuasa kehidupannya. Di sinilah prinsip ini menjadi sangat penting: hanya gereja yang tetap taat kepada Kristus yang akan melahirkan umat yang juga hidup dalam ketaatan. Karena kehidupan gereja tidak pernah netral ia selalu membentuk orang di dalamnya. Ketaatan sebagai gaya hidup Kerajaan Allah berarti hidup yang dipersembahkan secara utuh kepada Tuhan, bukan hanya di waktu tertentu, tetapi dalam seluruh perjalanan hidup. Artinya:

  • bukan hanya ibadah di gereja, tetapi seluruh hidup adalah ibadah
  • bukan hanya taat di momen rohani, tetapi dalam keputusan sehari-hari
  • bukan hanya percaya sebagian, tetapi menyerahkan seluruh hidup

Ketaatan bukan lagi aktivitas rohani, tetapi bentuk hidup yang terus dipersembahkan kepada Tuhan. Hari ini mari kita minta Tuhan menyelidiki hati kita: apakah hidup kita sudah benar-benar menjadi persembahan bagi Tuhan, atau masih terbagi antara Tuhan dan keinginan kita sendiri?

Doa
Tuhan, ajarku untuk hidup dalam ketaatan yang sejati kepada-Mu. Bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam seluruh hidupku. Bentuk aku supaya setiap keputusan, pikiran, dan langkahku berada di bawah kehendak-Mu. Jadikan ketaatanku bukan sekadar tindakan sesaat, tetapi gaya hidup yang terus-menerus di dalam Kerajaan-Mu. Amin. (Mpn)

Bacaan Alkitab
Kejadian 25-26