ADA HATI YANG MAU MEMAHAMI
“Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
(Ulangan 6:7)
Ketika membaca Ulangan 6:7, kita menemukan bahwa Tuhan tidak hanya memerintahkan orang tua untuk mengajar anak-anak mereka, tetapi juga menggambarkan suasana relasi yang sangat dekat dalam keluarga. Firman Tuhan dibicarakan ketika duduk di rumah, dalam perjalanan, saat berbaring, dan ketika bangun. Dengan kata lain, pengajaran iman tidak dibatasi pada momen-momen formal, melainkan berlangsung di tengah kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa Allah menghendaki hubungan yang hidup di dalam keluarga. Hubungan yang tidak hanya dipenuhi instruksi, tetapi juga percakapan. Tidak hanya dipenuhi aturan, tetapi juga pengertian.
Menariknya, dalam Alkitab, mengenal seseorang tidak pernah sekadar berarti mengetahui informasi tentang dirinya. Kata “mengenal” sering kali menunjuk kepada relasi yang dekat dan mendalam. Allah tidak hanya mengetahui umat-Nya; Ia mengenal mereka. Ia memahami kelemahan, pergumulan, ketakutan, dan kebutuhan mereka.
Pemazmur berkata “TUHAN menyelidiki aku dan mengenal aku.” (Mazmur 139:1) Allah mengetahui ketika kita duduk dan berdiri. Ia mengerti pikiran kita dari jauh. Tidak ada satu pun pergumulan yang tersembunyi dari hadapan-Nya. Jika keluarga dipanggil untuk mencerminkan karakter Allah, maka salah satu karakter yang perlu dibangun adalah kesediaan untuk memahami satu sama lain.
Sering kali kita merasa sudah mendengar, tetapi belum tentu memahami. Kita mendengar perkataan seseorang, tetapi gagal menangkap isi hatinya. Kita melihat tindakan seseorang, tetapi tidak mencoba memahami alasan di balik tindakannya. Contohnya, seorang anak yang terlihat membangkang mungkin sebenarnya sedang bergumul dengan tekanan yang tidak mampu ia ungkapkan. Seorang suami yang lebih banyak diam mungkin sedang memikul beban yang berat. Seorang istri yang mudah tersinggung mungkin sedang kelelahan secara fisik dan emosional. Jika kita hanya melihat perilakunya tanpa berusaha memahami keadaannya, maka yang muncul biasanya adalah penghakiman, bukan belas kasihan.
Dalam pelayanan-Nya, Tuhan Yesus berulang kali menunjukkan kemampuan untuk melihat lebih dalam daripada apa yang tampak di permukaan. Ketika orang lain melihat perempuan Samaria sebagai seorang berdosa, Yesus melihat jiwa yang haus akan keselamatan. Ketika orang lain melihat Zakheus sebagai pemungut cukai yang dibenci, Yesus melihat seorang yang sedang mencari kebenaran. Ketika orang lain melihat Petrus yang gagal, Yesus melihat seorang murid yang masih dapat dipulihkan. Yesus tidak hanya mendengar kata-kata manusia; Ia memahami hati mereka.
Inilah yang perlu hadir dalam keluarga Kristen. Kebersamaan yang sejati lahir ketika setiap anggota keluarga belajar melihat lebih dalam daripada sekadar tindakan atau perkataan. Kita belajar bertanya, “Apa yang sebenarnya sedang dirasakan?” atau “Pergumulan apa yang sedang dihadapi?” daripada langsung menyimpulkan dan menghakimi.
Tentu saja, kemampuan memahami orang lain bukan sesuatu yang muncul secara otomatis. Dosa membuat manusia cenderung berpusat pada dirinya sendiri. Kita lebih mudah menuntut untuk dimengerti daripada berusaha memahami. Karena itu, kita memerlukan pertolongan Roh Kudus untuk membentuk hati yang penuh kasih, rendah hati, dan peka terhadap kebutuhan orang lain. Sebagai keluarga Mesianik, kita dipanggil untuk menghadirkan kasih Kristus di dalam rumah. Salah satu wujudnya adalah memiliki hati yang mau memahami. Ketika pemahaman bertumbuh, konflik dapat diredakan, luka dapat dipulihkan, dan kebersamaan dapat semakin kuat.
Hari ini, marilah kita belajar melihat anggota keluarga bukan hanya dari apa yang mereka lakukan, tetapi juga dari apa yang mungkin sedang mereka pergumulkan. Sebab sering kali, seseorang tidak membutuhkan penghakiman yang lebih keras, melainkan hati yang lebih mengerti.
Doa Bapa yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau adalah Allah yang mengenal dan memahami kami dengan sempurna. Ampuni kami jika sering kali cepat menghakimi dan lambat memahami orang-orang yang Engkau tempatkan dalam keluarga kami. Berikan kepada kami hati yang penuh kasih, kesabaran, dan kepekaan untuk melihat kebutuhan serta pergumulan anggota keluarga kami. Tolong kami menjadi pribadi yang menghadirkan pengertian dan bukan penghakiman, sehingga kebersamaan dalam keluarga kami semakin mencerminkan kasih Kristus. Amin. -Van
Bacaan Alkitab
Bilangan 11-13
