KEKRISTENAN & PROBLEM SOSIAL

Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.”
(Amsal 3:27) Bdk. Amsal 31:8-9, Matius 25:40, Galatia 6:2, Yakobus 1:27

Pertanyaan penting yang harus direnungkan oleh kekristenan, gereja, dan setiap orang percaya hari ini adalah: apakah kita harus bertanggung jawab untuk permasalahan-permasalahan sosial yang ada di sekitar kita? Sebelum mencoba menjawabnya, mari sejenak kita melihat definisi serta cakupan problem sosial tersebut. Menurut penjelasan umum, problem sosial adalah kondisi tidak ideal di tengah masyarakat yang bertentangan dengan nilai, harapan, serta merugikan banyak orang. 

Secara umum, masalah ini mencakup berbagai isu turunan yang sangat luas, mulai dari masalah ekonomi seperti kemiskinan dan pengangguran yang membatasi akses terhadap kebutuhan dasar; kejahatan dan kriminalitas seperti pencurian, kekerasan, hingga korupsi; masalah sosial dan budaya seperti kesenjangan sosial, konflik antargolongan, serta kenakalan remaja; masalah kesehatan terkait penyebaran penyakit menular dan kesehatan masyarakat; hingga isu lingkungan hidup serta rendahnya kualitas pendidikan. 

Kembali ke pertanyaan awal, haruskah dan mungkinkah kita bertanggung jawab atau mengurus ini semua? Bila kita meresponnya melalui pendekatan secara institusional, maka problem sosial akan menjadi PR yang sangat panjang dan “tak berkesudahan”. Gereja secara institusi harus memiliki divisi-divisi pelayanan beserta turunannya yang sangat banyak, di mana hal tersebut akan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada. Dalam batas-batasnya, gereja sebagai institusi tampaknya tidak akan pernah sanggup menyelesaikan semuanya. 

Kecuali dan hanya gereja sebagai kesatuan tubuh Kristus yaitu Gereja Am yang merupakan himpunan dan persekutuan orang percaya di segala abad dan tempat yang sanggup mengerjakannya. Mereka ada di lininya masing-masing, di profesinya masing-masing, di konteksnya masing-masing, dan di zamannya masing-masing. Demikian pula dengan kita hari ini, Allah menempatkan kita di rincian-rincian tersebut, di dalam konteks sosial dengan berbagai permasalahan yang muncul di Indonesia ini. Mari kita kerjakan bagian kita.

Refleksi: Masalah sosial di sekitar kita mulai dari kemiskinan, kesenjangan, hingga kerusakan lingkungan sering kali tampak sangat besar dan mustahil untuk diselesaikan. Jika kita hanya mengandalkan gereja sebagai lembaga atau institusi, gereja tentu akan kewalahan dan tidak akan pernah sanggup menanggung semuanya sendirian. 

Namun, Allah tidak pernah memanggil gereja untuk bekerja hanya sebagai sebuah institusi, melainkan sebagai Tubuh Kristus (Gereja Am) yang tersebar di mana-mana. Setiap kita telah ditempatkan oleh Tuhan di lini, profesi, tempat kerja, dan lingkungan masyarakat yang berbeda-beda. Kita tidak dituntut untuk menyelesaikan seluruh permasalahan dunia sekaligus, melainkan dipanggil untuk setia, peduli, dan mengambil peran aktif di konteks tempat kita berada saat ini. Mari berhenti menjadi penonton, dan mulailah mengerjakan bagian kita untuk membawa dampak dan kebaikan Kristus bagi sesama. -Chika  

Doa dan Komitmen: Tuhan, bukalah mata hati kami untuk peduli pada masalah sosial di sekitar kami dan mampukan kami mengerjakan bagian kami sebagai garam dan terang dunia. Amin.

Bacaan Alkitab
Hakim-Hakim 3-5