STARTING LINE, BUKAN GARIS FINISH

Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” ‘ Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan.
(Kisah Para Rasul 1:8; 2:4)

Banyak orang melihat pengalaman rohani sebagai puncak: momen kuat, perasaan mendalam, atau peristiwa yang menggetarkan. Namun dalam Kisah Para Rasul, justru sebaliknya di mana Pentakosta bukan garis finish itu garis start. Apa yang terjadi di Kisah 2:4 bukan tujuan akhir, tetapi titik awal dari kehidupan yang diutus karena pengalaman dengan Roh Kudus bukan untuk dinikmati saja, tetapi untuk dijalani setiap hari.

Yesus mengingatkan agar para murid tidak meninggal Yerusalem tetapi harus menunggu di sana karena ada sebuah janji yang harus tergenapi di sana. Janji ini tergenapi di hari Pentakosta ketika Roh Kudus yang dijanjikan itu dicurahkan kepada para murid. Sebuah peristiwa fenomenal dan supra natural yang dialami oleh para murid. Akan tetapi perlu diingat bahwa dicurahkannya Roh Kudus ke atas para murid itu berarti inilah titik awal dari sebuah pengutusan para murid untuk menjadi saksi-saksi bagi Kristus (Kis.: 8). Menarik sekali karena pekerjaan Roh Kudus tidak membuat mereka stagnan tetapi mereka bergerak memberitakan Injil. Peristiwa Pentakosta yang terjadi membuat para murid bisa berbahasa dengan bahwa yang dimengerti oleh orang banyak yang sedang berkumpul di Yerusalem dan di sinilah terjadi percakapan lintas budaya dalam konteks pemberitaan Injil. Rasul Petrus tampil berbicara ketika orang banyak mengatakan bahwa mereka mabuk anggur. Rasul Paulus berbicara tentang Tuhan Yesus kepada orang banyak.

Saat ini kita mengalami peristiwa seperti di Kis. 2 ini tetapi kita telah mengalami baptisan Roh Kudus ketika kita lahir baru. Sebagaimana Para rasul dimampukan untuk memberitakan tentang Tuhan, bukankah setiap kita pun seharusnya melakukan yang sama karena Roh Kudus itu sama. Itulah sebabnya momen lahir barulah puncak euforia kita tetapi inilah awal perjalanan misi kita sebagai saksi bagi Tuhan. Mari belajar mendengar suara Tuhan dan belajar untuk menaati suara tersebut. (jho)

Doa: Terima kasih untuk kelahiran baruku dalam-Mu ya, Tuhan. Tolong aku melaksanakan panggilan sebagai saksi-Mu. Amin. 

Bacaan Alkitab
Wahyu 12-18