DOA BUKANLAH MANTRA MELAINKAN PERTARUHAN IMAN

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] 
(Matius 6:5-13)

Satu kali ada seorang anak berusia 5 tahun berlari ke arah ayahnya yang baru pulang kerja, memeluk kakinya, dan berkata, “Ayah, aku haus, mau susu.” Sang ayah langsung tersenyum dan mengambilkan susu. Anak itu tidak perlu membuat proposal 10 halaman, menggunakan bahasa hukum yang formal, atau mengulang permohonannya sebanyak 50 kali dalam tempo dua jam agar ayahnya mengerti. Dia datang atas dasar hubungan anak dan ayah. Artinya ayah dari anak ini memahami bahasa sederhana dan to the point anaknya. Dan apa yang menjadi kebutuhannya, sang anak dapat mengkomuniksan permohonannya tanpa harus merangkai kalimat yang panjang dan diulang-ulang. Apa yang menjadi cerita diatas sungguh amat sangat mirip dengan apa yang diceritakan Tuhan Yesus. Kata “bertele-tele” berasal dari kata βατταλογέω (battalogeo). Kata ini bersifat onomatope (meniru bunyi), yang berarti mengoceh tanpa henti, mengulang-ulang suku kata yang sama seperti orang gagap, atau merapalkan mantra sihir.  Dalam tradisi kafir kuno, orang-orang percaya bahwa dewa-dewa mereka itu egois, sibuk, atau tertidur. Jadi, mereka harus merapalkan nama dewa itu ratusan kali atau mengulang kalimat yang sama berjam-jam agar perhatian sang dewa teralih. Yesus berkata: Jangan adopsi mentalitas itu.   Banyak orang terjebak menganggap doa seperti mantra: makin panjang kalimatnya, makin puitis bahasanya, makin besar peluang dikabulkan. Yesus mengingatkan bahwa Bapa kita tidak terkesan dengan teknik komunikasi kita. ​Orang yang belum mengenal Allah berdoa dengan kecemasan, mencoba “merayu” ilah mereka. Namun sebagai orang percaya, karakter doa kita didasari oleh status kita sebagai anak. Kita tidak perlu bertele-tele karena kita berbicara dengan Bapa yang mengasihi kita. Doa sebagai gaya hidup menyingkirkan kepalsuan; kita bisa datang apa adanya dengan jujur, karena fondasi doa kita adalah rasa percaya, bukan performa kata-kata. Sehingga patut diingat bahwa doa bukan berfungsi memberi informasi baru kepada Tuhan: Ayat 8 berkata, “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Kita berdoa untuk menyelaraskan hati kita dengan-Nya. Mari lepaskan Formula Mentalitas Mantra: Doa itu meletakkan harapan dengan beriman kepada Bapa: Karakter doa yang dewasa lahir dari rasa aman. Tantangan Selasa kita adalah mari kita berdoa dengan jujur tanpa kepalsuan kata-kata (Ant)

Bacaan Alkitab
Keluaran 1-3