Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Matius 28: 19-20 Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”
Yohanes 14: 21
Bacaan Alkitab
Imamat 11-13
Pada suatu hari ada yang seorang bapak yang memanggil kedua orang anaknya dan meminta mereka berbelanja ke supermarket terdekat di sekitar rumah mereka. Ia memanggil anak yang sulung dan berkata, “Nak, pergilah ke supermarket dan tolong belikan telur dan sayur karena papa mau masak buat kita hari ini.” Lalu si sulung berkata, “Baik, Pa.” Setelah menjawab sang pergi ke kamrnya, berbaring dan bermain hp menunggu waktu untuk mendapatkan moodnya pergi ke supermarket. Selang beberapa waktu sang bapak heran karena si sulung tidak kunjung datang dari supermarket. Lalu ia pergi ke kamar dan mendapati si sulung sudah ketiduran di ranjangnya dan dengan sedih sang Bapak memanggil si bungsu dan memberikan peruntah yang sama. Si bungsu menolaknya dengan alasan dia sibuk mengerjakan tugasnya. Sang Bapak dengan sedih mengiyakan jawaban si bungsu. Akan tetapi si bungsu tersadar, ia menyesal dan kembali kepada sang Bapak dan berkata, “Baik, Pa. Aku akan pergi dan membelikan pesanan papa. Papa tunggu ya.” Kemudian ia pun membelikan pesanan sang Bapak.
Pertanyaannya bagi kita adalah siapakah anak yang lebih mengasihi sang Bapak? Mengacu kepada firman Tuhan dalam Yohanes 14: 21 maka jawabnnya adalah si bungsu. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena ia melakukan apa yang diminta oleh sang Bapak. Apakah si sulung tidak mengasihi papanya? Mungkin ia mengasihi papanya tetapi ia mengabaikan apa yang diperintahkan ayahnya kepadanya.
Kalau kepada kita ditanyakan, “Dalam hidup keseharian kita, kita lebih mirip siapa? Si sulung atau si bungsu?” Kalau kita mau jujur, kita lebih sering mirip dengan si sulung. Sama seperti perenungan kemarin, kita tahu kita harus melakukan pekerjaan baik yang diberikan Allah kepada kita tetapi seringkali kita tidak taat kepada perintah tersebut. Kita enggan melakukannya karena itu “unsafe”, kita enggan melakukanya karena kita sedang melakukan hobby kita, kita enggan melakukannya karena kita malas, atau kita dalam kondisi tidak mood. Di mata Tuhan apa yang kita lakukan ini adalah pengabaian besar karena kita tidak taat kepada-Nya. Kiranya Tuhan menolong kita untuk taat.