Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. ?Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. ?Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. ?Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. ?Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. ?Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. (1 Korintus 15)
Bacaan Alkitab
Yosua 8
Kisah Para Rasul 13
Mazmur 98
Amsal 13:2-3
Bila kita coba untuk merinding atau menjabarkan atau mem-breakdown ayat 14 & 17 maka kita akan menemukan betapa krusialnya masalah kebangkitan Kristus ini – sekalipun apa yang disuguhkan harus dipahami secara terbalik. Kedua ayat itu dimulai dengan perkataan yang sama – andaikata/jika Kristus tidak dibangkitkan – maka kosekuensi-nya sebagai berikut:
- Sia-sialah pemberitaan kami
Bila kita coba bayangkan bagaimana Paulus dengan antusias-nya yang tinggi untuk memberitakan Injil TUHAN dengan menghadapi berbagai tantangan & rintangan, bahkan ia harus berkali-kali menjalani perjalanan misi-nya dan tidak jarang dengan mempertahankan nyawanya – tiba-tiba tidak ada faedahnya, tidak ada artinya, menjadi sia-sia lantaran apa yang Paulus merupakan kepalsuan atau dusta. Semua unsur dari pemberitaan Injil dan kepercayaan yang sesuai hanya mempunyai makna dalam pertaliannya dengan pokok utama, yaitu: Kristus yang dibangkitkan. Tanpa kebangkitan itu yang lain-lain runtuh semua. - Sia-sialah kepercayaan kamu
Bukan hanya pemberitaan Paulus dan kawan yang menjadi sia-sia, bahkan hasil pelayanan mereka yang berhasil membawa seseorang meninggalkan keyakinan yang lama untuk menjadi percaya kepada Yesus – bahkan mereka telah meninggalkan dan menanggalkan segala hak keduniaan, pukul salib, bayar harga dan menyangkal diri – tiba-tiba itu semua menjadi sia-sia.
Kata sia-sia dimaknai sebagai sesuatu yang tidak ada apa-apanya, hampa (Yunani, kenos). Andaikata tidak ada kebangkitan, Injil sama sekali tidak ada artinya. Dan iman jemaat Korintus tidak berpegang pada fakta yang nyata: semua hanya khayal belaka. - Kita masih hidup di dalam dosa.
Hal yang paling fatal adalah ternyata kita masih berdosa, karena sesungguhnya kisah penebusan dosa melalui karya Yesus Kristus di atas kayu salib dan kemenangan yang dikumandangkan melalui kebangkitan-Nya dianggap sebagai ketidak beneran.
Di awal telah disinggung bahwa krusialitas kebangkitan justru dipresentasikan oleh Paulus dengan menggunakan antitesis-nya. Di mana realita iman yang terjadi bahwa kebangkitan itu nyata dan Yesus telah menyatakan kebangkitan- Nya dan hal yang dianggap sia-sia itu sesungguhnya tidak pernah terjadi. Terpujilah nama TUHAN. (JP)